Catatan Kucing


fuckyeahmahasiswa:

hubungan asmara kamu dapat terganggu oleh hal-hal yang tidak diharapkan

dari alisnaik




satu hal yang konstan didunia ini adalah perubahan

– #catatankucing

satu hal yang pasti didunia ini adalah ketidakpastian

– #catatankucing

BELAJAR KEPADA SANG DEMONSTRAN

Sebelum saya mati, saya masih bisa dapat berkata: ya,saya telah hidup dan meresapi panas dan hujan.” (Soe Hok Gie).

Kenangan 15 tahun lalu itu tak lekang di kepala saya. Di salah satu ruang bawah tanah kampus Universitas Nasional Jakarta di Pasar Minggu,  belasan anak muda secara serius mendiskusikan isi bukuCatatan Seorang Demonstran (CSD). Usai berdiskusi, mereka merencanakan penyebaran copy buku tersebut. Tujuannya menumbuhkan semangat perlawanan di kalangan mahasiswa baru terhadap rezim Orde Baru. CSD sendiri adalah judul sebuah buku harian dari Soe Hok Gie yang diterbitkan oleh Penerbit LP3ES. Berisi pandangan-pandangan pribadi politik, pesta dan cinta tokoh mahasisiswa idealis asal UI itu.

Mengapa saya menyebut peristiwa usang (dan mungkin bagi anda tidak ada artinya sama sekali) dalam pembukaan tulisan ini? Tentu saja, bagi saya itu laik dikenang. Karena saya ingin menegaskan, setelah 26 tahun Soe wafat, “petasan-petasan berisi bom” (istilah Soe untuk pemikiran-pemikiran yang ditulis dalam sejumlah artikelnya), seolah masih menyala dan mempengaruhi kami pada waktu itu, untuk terus melawan kezaliman Jenderal Soeharto, hingga ia turun pada 21 Mei 1998.

Soe memang bukan sembarang anak muda. Ia jauh dari tipikal “mahasiswa bergaya ternak,” sebuah istilah budayawan Emha Ainun Nadjib untuk mahasiswa yang tujuannya semata-mata bisa kuliah dengan tenang,lulus dengan angka-angka memuaskan, kerja di perusahaan-perusahaan mapan lalu “bahagia dunia akhirat” dalam ikatan pernikahan. Ia memang anak muda yang luar biasa. Bukan saja untuk ukuran saat itu,tapi juga saat ini, ketika kebenaran hati nurani banyak dipertaruhkan.

Dan tentu saja,seseorang yang hebat seperti Soe,tidak menjadi begitu saja. Pastinya semua prinsip yang ia miliki,dibangun lelaki penyayang binatang itu dari sejak remaja. Simaklah kisah pemberontakan pertama remaja Soe. Suatu hari akibat mendebat seorang guru sastra di sekolahnya,nilai ulangan lelaki Hokian itu ditahan.

Terhadap praktek ketidakadilan itu, Ia meradang dan berniat melakukan koreksi habis-habisan terhadap sang guru, ”Guru yang model gituan.Yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa dan selalu benar.Dan murid bukan kerbau,”tulis Soe dalam catatan hariannya tertanggal 8 Februari 1958.

Kejadian itu menjadi titik yang kian membesar. Kamarahan seorang remaja berubah menjadi kemarahan seorang rakyat kepada para pemimpinya kala suatu hari di bulan Desember 1959, ia menemukan seorang penduduk Jakarta yang kelaparan makan kulit mangga dari tong sampah.Sambil memberikan semua uang jajannya kepada si pemakan kulit mangga itu, diam-diam ia marah. Kali ini bukan kepada sang guru sastra,tapi kepada Presiden Soekarno dan kawan-kawan seperjuangannya.

“Mereka yang telah mengkhianati apa yang dulu mereka perjuangkan,harus ditembak mati di Lapangan Banteng,”tulisnya keras.

Dan kemarahan Soe terbukti bukanlah letupan yang bersifat sesaat. Ternyata ia memegang erat itu. Semua orang mafhum jika sejak 1963,ia telah menjadi salah seorang pemimpin perlawanan mahasiswa Indonesia terhadap Soekarno dan dominasi PKI. Berbekal semangat idealisme, Soe memimpin kawan-kawannya untuk turun ke jalan. Tidak cukup berteriak, dalam sebuah demonstrasi di muka Istana, ia pernah nekad menghadang panser tentara dengan tidur terlentang.

Prilakunya itu seolah menyiratkan semangat yang ditulisnya dalam 3 bait puisi:

Hari ini aku lihat kembali

Wajah-wajah halus yang keras

Yang berbicara tentang kemerdekaaan

Dan demokrasi

Dan bercita-cita

Menggulingkan tiran

Aku mengenali mereka

yang tanpa tentara

mau berperang melawan diktator

dan yang tanpa uang

mau memberantas korupsi

Kawan-kawan

Kuberikan padamu cintaku

Dan maukah kau berjabat tangan

Selalu dalam hidup ini?

Tapi Soe bukan sekadar demonstran yang hanya pandai berteriak dan menuruti apa kata korlap (koordinator lapangan) semata. Ia pun seorang anak muda yang gila membaca, pandai menulis dan berpikir . Artikelnya menyebar di berbagai surat kabar nasional saat itu. Isinya,apa lagi jika bukan kritik keras (bahkan dalam beberapa kesempatan ia langsung menunjuk hidung) terhadap segala bentuk ketidakadilan.Bukan saja ketidakadilan buat pihaknya, tapi juga ketidakadilan yang kelak dilakukan oleh sekutu politiknya (baca:tentara).

Dalam sebuah artikelnya ia mengecam pembantaian ratusan ribu anggota PKI,yang justru saat itu berposisi sebagai musuh politiknya. Dia menulis: “Jika mereka memang bersalah,adililah mereka dan hukum (kalau perlu hukuman mati),tetapi yang tidak bersalah supaya dibebaskan. Mereka adalah manusia,punya istri, anak,orangtua dan sahabat yang mengharap-harapkannya.”

Soe memang seorang humanis dalam garis yang tak mengenal batas-batas. Ia seorang yang jujur dan berani. Dan juga mengerikan, kata almarhum Nugroho Notosusanto. Mengapa? Karena jika ia sudah memiliki prinsip,maka dengan prinsipnya tersebut Soe akan maju lurus tanpa kompromi. “Maka seringkali ia bentrok karena dianggap tidak taktis,”tulis karib Soe yang belakangan menjadi salah satu sekrup rezim Orde Baru tersebut.

Karena konsistensi, kejujuran sekaligus “kegilaannya” tersebut menjadikan saya sangat menghormati dan mengagumi Soe.Kendati demikian, semua itu tidak lantas membuat saya menjadikannya sebagai “berhala” dalam hidup saya. Sebagai manusia, tentu saja ia juga punya banyak kelemahan.

Kelemahan Soe,salah satunya adalah ia mendambakan mati muda (yang ternyata terkabulkan). Apa artinya idelalisme jika ia seolah “tidak berani” mengotentikan semua diyakininya di masa tua? Bukankah itu seperti tindakan melarikan diri dari masalah? Lelah untuk bertempur? Untuk soal ini,saya justru sangat kagum kepada Soe Hok Djin (Arief Budiman) –saudara Soe Hok Gie—yang menurut saya jauh lebih teruji sebagai seorang idealis hingga kini.

Hari-hari ini, Soe banyak digandrungi khalayak. Saya sering melihat foto Soe yang sedang duduk di tringulasi Gunung Pangrango dalam gaya Buddha, menghiasi kaos oblong yang dikenakan anak-anak muda saat ini. Tapi bagaimana persisnya mereka mengetahui dan melihat sosok Soe, saya sama sekali tidak tahu. Yang saya tahu, sejak hidup Soe difilmkan Riri Riza, sosoknya seolah larut terbawa dalam gemuruhnya budaya pop. Sama halnya seperti nasib Che Guevara,Si Revolusiener Gondrong yang setelah gugur,sosoknya justru dieksploitasi habis-habisan oleh kapitalisme.

Iseng-iseng, suatu hari, saya pernah bertanya kepada seorang mahasiswa perempuan (yang tak lain adalah kerabat saya sendiri) : Apa yang anda bayangkan dari sosok Soe? Jawabnya mengejutkan dan bikin sedih: “Dalam bayanganku,Soe itu seperti Nicholas (Nicolas Saputra pemeran Soe dalam film Gie),”ujarnya sambil tersenyum tanpa merasa “berdosa”.

Soe Hok Gie memang telah lama pergi. Dua hari lagi adalah tepat tahun ke 42, sang demonstran itu tiada akibat terbunuh gas H2S di Gunung Semeru. Sementara kini abu jasadnya bisa jadi tengah berterbangan ditiup semilir angin di Lembah Mandalawangi. Ya,tak ada yang tersisa darinya tubuhnya, kecuali kenangan, harapan dan semangatnya yang akan terus menyala di dada orang-orang yang telah bertekad untuk “meresapi panas dan hujan”. “Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar terimalah dan hadapilah” tulis Soe dalam sebuah puisi yang pernah ditulisnya: Mandalawangi-Pangrango.

Ya untuk soal hidup, konsistensi, kejujuran dan rasa kasih tanpa sekat, saya pikir kita pantas belajar kepada Soe Hok Gie. (hendijo)

from Hendi Johari



WAITING OUTSIDE THE LINE

You’ll never enjoy your life,
living inside the box
You’re so afraid of taking chances,
how you gonna reach the top?

Rules and regulations,
force you to play it safe
Get rid of all the hesitation,
it’s time for you to seize the day

Instead of just sitting around
and looking down on tomorrow
You gotta let your feet off the ground,
the time is now

I’m waiting, waiting, just waiting,
I’m waiting, waiting outside the lines
Waiting outside the lines
Waiting outside the lines

Try to have no regrets
even if it’s just tonight
How you gonna walk ahead
if you keep living blind

Stuck in that same position,
you deserve so much more
lyricsalls.blogspot.com
There’s a whole world around us,
just waiting to be explored

Instead of just sitting around
and looking down on tomorrow
You gotta let your feet off the ground,
the time is now, just let it go

Don’t wanna have to force you to smile
I’m here to help you notice the rainbow
Cause I know,
What’s in you is out there

I’m waiting, waiting, just waiting,
I’m waiting, waiting outside the lines
Waiting outside the lines
Waiting outside the lines

I’m trying to be patient (I’m trying to be patient)
the first step is the hardest (the hardest)
I know you can make it,
go ahead and take it

I’m Waiting, waiting, just waiting I’m waiting
I’m waiting, waiting, just waiting
I’m waiting, waiting outside the lines
Waiting outside the lines
Waiting outside the lines

You’ll never enjoy your life
Living inside the box
You’re so afraid of taking chances,
How you gonna reach the top?



Tak ada sedikitpun niat untuk lari dari semua ini..
Karena itu mohon berikan hamba kekuatan untuk bertahan dan berjuang ya Rabb..
Karena saya hanya inin mengakhirnya dengan indah..

– #catatankucing

aku hanya ingin hidup bahagia dan membahagiakan orang-orang yang aku sayangi…

– pernyataan egois #catatan kucing

Maka tamparlah aku sahabat. Bawalah aku keinti ayat. Karena aku ingin tamat dengan sebaik—baik riwayat. Ku mohon,tak sesuatupun yang hentikan langkahku. Betapapun semakin hari, semakin tak pantas lisanku menyimpan hapalan, aku tak akan diam. Membiarkan hatiku akhirnya menyerah, lalu bergumam : Mungkin bukan aku.

Maka untuk yang satu ini, tak sudi aku menyudahinya dengan kata itu. Aku pasti mampu……..

– Widya Nova Syamita
AldebaranIQ (via mament)
Via tak tergantikan : mament
doa sang ibu

jadikan sabaar dan shalat sebagai peganganmu anak ku dan jadikan pengorbanan dan kekuatanku sebagai sandaran mu untuk berpijak. teguh lah dalam prinsipmu. semoga sang pencipta merahmati seluruh langkahmu. doaku menyertaimu selalu

doa sang ibu

jadikan sabaar dan shalat sebagai peganganmu anak ku dan jadikan pengorbanan dan kekuatanku sebagai sandaran mu untuk berpijak. teguh lah dalam prinsipmu. semoga sang pencipta merahmati seluruh langkahmu. doaku menyertaimu selalu


Antara Keluhan dan Jawaban Allah

  • Keluhan: ah, mana mungkin..
  • Allah: “Jika AKU menghendaki, cukup Ku berkata “Jadi”, maka jadilah (QS. Yasin ; 82)
  • K: “Capek banget... gw....”
  • Allah: “...dan KAMI jadikan tidurmu untuk istirahat.” (QS.An-Naba :9)
  • K: “Berat banget yah, gak sanggup rasanya...”
  • Allah: “AKU tidak membebani seseorang, melainkan sesuai kesanggupan.” (QS. Al-Baqarah : 286)
  • K: “Stressss nih...Panik...”
  • Allah: “Hanya dengan mengingatku hati akan menjadi tenang”. (QS. Ar-Ro’d :28)
  • K: “Yaaaahh... ini mah semua bakal sia-sia..”
  • Allah: ”Siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar biji dzarah sekalipun, niscaya ia akan melihat balasannya”. (QS. Al-Zalzalah :7)
  • K: “Gile aje..gw sendirian..gak ada seorangpun yang mau bantuin...”
  • Allah: “Berdoalah (mintalah) kepadaKU, niscaya Aku kabulkan untukmu”. (QS. Al-Mukmin :60
  • K: “ Duh..sedih banget deh gw...”
  • Allah: “La Tahzan, Innallaha Ma’ana. Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita:. (QS. At-Taubah :40)
  • Ayo tman2 smua yg mulai galau atas perhatian Allah yg serasa jauh dari kita pdahal sebaliknya Allah dekat selalu (QS. Al-Baqarah 186)
Via tak tergantikan : mament
hope the dream comes true

hope the dream comes true


Demi Masa

demi masa..

tanpa terasa perjalanan hidup ini sudah mencapai 20 tahun..

waktu yang cukup lama untuk mempelajari banyak hal didunia ini. dimulai dari tarikan nafas pertama setelah melarikan diri dari ruangan sempit yg bernama rahim bertemankan plasenta dan dan air ketuban, sampai dengan detik ini pahala dan dosa susul menyusul berlari menuju garis finish yang tidak tau dimana. jika dipikir-pikir dari 20 tahun waktu yang telah habis itu tak sampai setengahnya yang dirasa digunakan secara optimal. waktu yg panjang itu tiba-tiba jadi sempit karena banyak yang terbuang sia-sia. 

demi masa, memang manusia tidak pernah puas…

tidak pernah merasa cukup akan sesuatu.. 

Demi masa..

saat merasa tidak tau arah untuk melangkah, sering kali kepala menengok kebelakang berharap melihat jejak-jejak kaki yang membekas sebagai bukti jalan itu pernah dijalani. tapi apa gunanya?? yang ada hanya nafsu untuk mundur kebelakang karena takut maju kedepan, sadar bahwa langkah untuk maju itu dihalangi oleh suatu dinding penghalang yang menakutkan.. namun bukankah itu pengecut?? atau mungkin bodoh??

demi masa, manusia hanya bisa mengeluh…

ya allah ampuni lah hamba Mu yang bodoh dan pengecut ini.. berilah hamba keberanian dan kekuatan untuk melangkah maju dan terangilah jalan hamba agar hamba dapat melihat jalan yang benar..

amiiinnn

demi masa, manusia hanya bisa berusaha dan meminta kepada-Nya..

Sang Penguasa alam semesta..

Sang Pemilik hati manusia



I’m not alone


yeeeeaaaaaaaaaaaaaaaaahhhh

yeeeeaaaaaaaaaaaaaaaaahhhh


112
To Tumblr, Love PixelUnion

We're updating Fluid!

Soon, we'll be updating the look and feel of this theme. Read about the changes here. You can easily turn off this notification in the theme customization panel.

Close